mas template
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Fir'aun Manakah Yang Tenggelam di Laut Merah??

Kisah mengenai Mukjizat Nabi Musa (Moses) yang membelah Laut Merah dengan tongkatnya untuk menghindari kejaran Fir'aun dan bala tentaranya tentunya sudah tak asing lagi ditelinga kita. Di kitab suci Al-Qur'an dan Alkitab, kronologi pengejaran dikisahkan begitu gamblang walaupun terdapat sedikit perberbedaan kisah diantara keduanya.

Namun yang pasti, kedua kitab suci tersebut mengisahkan kepada kita mengenai akhir yang menggembirakan bagi Musa beserta Kaum Bani Israel karena dapat meloloskan diri dari kejaran Fir'aun beserta bala tentaranya. Dan bagi sang Fir'aun, ia justru menemui ajalnya setelah tenggelam bersama pasukannya di Laut Merah.

fir'aun tenggelam

Walaupun Al-Quran dan Alkitab sudah cukup jelas mengisahkan kronologi peristiwa itu terjadi, namun masih terdapat teka-teki mengenai siapa sebenarnya Fir'aun yang memimpin pengejaran terhadap Musa beserta kaum Bani Israel? Al-Quran dan Alkitab tidak menyebutkan secara mendetail siapakah Fir'aun yang dimaksud. Fir'aun (Pharaoh) merupakan gelar yang diberikan kepada raja-raja Mesir kuno.

Asal usul istilah Fir'aun sebetulnya merujuk kepada nama istana tempat berdiamnya seorang raja, namun lama - kelamaan digunakan sebagai gelar raja-raja Mesir kuno. Banyak Fir'aun yang telah memimpin peradaban yang terkenal dengan penginggalan Piramida Khufu-nya itu, mulai dari Raja Menes -sekitar 3000 SM, pendiri kerajaan, pemersatu Mesir hulu dan hilir - hingga Mesir jatuh dibawah kepemimpinan raja-raja dari Persia.

Sejauh ini telah banyak studi yang dilakukan untuk mengidentifikasi siapakah Fir'aun yang sedang berkuasa saat peristiwa keluarnya Musa beserta Bani Israel dari tanah Mesir. Berikut beberapa kandidatnya :
  • Ahmose I (1550 SM - 1525 SM)
  • Thutmose I (1506 SM - 1493 SM)
  • Thutmose II (1494 SM - 1479 SM)
  • Thutmose III (1479 SM - 1425 SM)
  • Amenhotep II (1427 SM - 1401 SM)
  • Amenhotep IV (1352 SM - 1336 SM)
  • Horemheb (sekitar 1319 SM - 1292 SM)
  • Ramesses I (sekitar 1292 SM - 1290 SM)
  • Seti I (sekitar 1290 SM - 1279 SM)
  • Ramesses II (1279 SM - 1213 SM)
  • Merneptah (1213 SM - 1203 SM)
  • Amenmesse (1203 SM - 1199 SM)
  • Setnakhte (1190 SM - 1186 SM)
Dari daftar beberapa Fir'aun diatas, nama Ramesses II selama ini memang kerap diidentifikasikan sebagai Fir'aun yang sedang berkuasa pada saat itu. Ia merupakan sosok Fir'aun terbesar dan terkuat yang pernah memimpin peradaban Mesir kuno. Ramesses II juga merupakan salah satu Fir'aun yang paling lama berkuasa, yakni 66 tahun lamanya.

Sifatnya yang kadang tirani terhadap masyarakat kelas bawah, membuat sejarawan banyak yang berspekulasi dengan menyebutkan ia sebagai raja yang memperbudak Bani Israel. Walaupun demikian, tidak ada bukti arkeologi yang benar-benar memperkuat dugaan tersebut. Selain itu periode masa hidupnya juga dikatakan tidak cocok dengan kemungkinan terjadinya peristiwa keluaran.

Kemudian menilik ke Raja Merneptah - putra Ramesses II - yang berkuasa setelah Ramesses II mangkat, ia juga bukan merupakan Fir'aun yang dimaksud mengingat pada masa pemerintahannya, Merneptah pernah mengatakan bahwa Bangsa Israel telah tiba di tanah Kana'an. Itu artinya, peristiwa keluarnya Musa beserta Bani Israel telah lama terjadi sebelum ia berkuasa. Lalu bagaimana dengan Seti I, ayah dari Ramesses II ?

Bagaimanapun juga, ahli sejarah Alkitab mengatakan peristiwa keluaran ini terjadi disekitar 1400 SM, itu jauh dari masa pemerintahan Seti I. Beberapa Sejarawan yang menggunakan metode penelitian dengan cara mencocokkan kronologi di dalam catatan-catatan peninggalan Mesir Kuno dengan perkiraan waktu keluaran pada kitab suci menyimpulkan, kemungkinan peristiwa itu terjadi saat Mesir kuno dibawah pimpinan Raja-raja Dinasti ke-18.

Dinasti ke-18 mencakup beberapa raja, yakni Thutmose I (1506 SM - 1493 SM), Thutmose II (1494 SM - 1479 SM), diselingi oleh kepempinan Fir'aun wanita yaitu Ratu Hatsepsut (1479 SM -1458 SM) kemudian Thutmose III (1479 SM - 1425 SM).

Benarkah Thutmose II, Fir'aun yang tenggelam di Laut Merah?

fir'aun tenggelam
Menurut studi yang dilakukan oleh Sejarawan Alan Gardiner, setelah kematian Thutmose I dan masa persinggahannya selama 40 tahun di Madyan / Midian, Musa memutuskan untuk kembali ke tanah Mesir tempat beliau dibesarkan. Allah menugaskan Musa untuk menyampaikan ajaran agama yang hakiki kepada Fir'aun.

Pada saat itu, Mesir dipimpin oleh Raja Thutmose II yang memperistri Ratu Hatshepsut. Thutmose II, menurut sejarah bukanlah sosok Fir'aun yang hebat, sebaliknya istrinya Hatshepsut yang banyak berperan penting bagi kemajuan kerajaan. Walaupun bukan merupakan sosok pemimpin yang dikatakan berpengaruh, Gardiner tetap meyakini Thutmose II merupakan kandidat terkuat fir'aun yang melakukan pengejaran terhadap Musa beserta kaum Bani Israel.

Hal itu dikarenakan banyaknya kecocokan dengan studi sejarah yang ia lakukan. Garnier juga menambahakan bahwa di pusara tempat berdiamnya mummi Thutmose II, hampir tidak ditemukan ornamen-ornamen dan benda-benda berharga "semewah" pusara raja-raja Mesir kuno yang lainnya. Ada kesan bahwa raja ini tidak begitu disukai dan dihormati oleh rakyatnya, sehingga mereka tak peduli dengan kematian sang Raja.

Selain itu, kematiannya yang mendadak juga menjadi salah satu alasannya. Penelitian terhadap Mummi Thutmose II yang ditemukan di situs Deir el-Bahri pada tahun 1881 mengungkapkan bahwa terdapat banyak bekas cidera di tubuhnya, dan Mummi-nya ditemukan tidak dalam kondisi yang bagus. Hal ini mungkin menandakan Thutmose II mati secara tidak wajar. Apakah cidera di tubuhnya itu akibat hempasan kekuatan gelombang Laut Merah yang secara tiba-tiba tertutup kembali? Wallahu 'alam Bishawab Al-Quran sendiri mengisahkan detik-detik terakhir kehidupan Sang Fir'aun :

Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah ia ;" Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". ( QS Yunus 90).

Dari ayat diatas kita dapat mengetahui bahwa Fir'aun mencoba memohon kepada Allah agar ia diselamatkan ketika air mengenggelamkan raganya. Namun sangatlah jelas bahwasannya tindakan Fir'aun hanyalah suatu kebohongan semata sebagai alasan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari maut.

Setelah sang Fir'aun tewas pada periode pemerintahannya yang tergolong singkat, besar kemungkinan jalannya roda pemerintahan diambil alih sementara oleh sang Ratu yang tak lain ialah Hatshepsut sebelum akhirnya Thutmose III naik tahta. Jika benar Thutmose II merupakan Fir'aun yang dimaksud, ada suatu kemungkinan kronologi sejarahnya menjadi demikian :

Pertama, Musa dibesarkan dilingkungan kerajaan Mesir saat Thutmose I berkuasa, dan istri Thutmose I yang menemukan bayi Musa saat hanyut di Sungai Nil. Kedua, selang puluhan tahun setelah Musa melarikan diri dari tanah Mesir karena ancaman hukuman mati akibat peristiwa terbunuhnya seorang prajurit kerajaan olehnya, ia kembali untuk menyampaikan ajaran Allah kepada Fir'aun. Namun pada saat itu mungkin Thutmose I telah meninggal dan digantikan putranya Thutmose II.

Mummi Thutmose II

fir'aun tenggelam

Mengapa Thutmose II Diyakini Sebagai Firaun Yang Tenggelam di Laut Merah Sedangkan Mummi-nya Sendiri Berhasil Ditemukan? Pertanyaan diatas memang kerap ditanyakan. Mereka yang bertanya kebanyakan beranggapan bahwa Jasad Fir'aun tidak mungkin berhasil ditemukan apalagi dalam bentuk Mummi, sebab telah tenggelam di Laut Merah bersama bala tentaranya.

Bagi kawan-kawan muslim, Al-Quran mengisahkan kepada kita sebagai berikut: Apakah sekarang (kamu baru percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesunguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuatan Kami. (QS Yunus 91-92). Tentunya ayat diatas sudah cukup menjelaskan mengapa Allah dengan sengaja menyelamatkan jasad sang Fir'aun.

Sumber : superavideo.wordpress.com
07.55 | 0 comments | Selengkapnya

Percakapan Malaikat Jibril, Kerbau, Kelelawar dan Cacing

Suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibri AS untuk pergi menemui salah satu makhluk-Nya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang telah diciptakan Allah SWT sebagai seekor kerbau. Malaikat Jibril AS segera pergi menemui si Kerbau. Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai. Malaikat Jibril AS mendatanginya, kemudian mulai bertanya kepada si kerbau.

Malaikat Jibril AS :

"Hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau?"

Si kerbau menjawab :

"Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri".

Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar. Malaikat Jibril AS mendatanginya seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah goa. Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar,

Malaikat Jibril AS :

"Hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar?".

Kelelawar menjawab :

"Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya”.

Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah. Malaikat Jibril AS bertanya kepada si cacing,

Malaikat Jibril AS :

"Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing?".

Si cacing menjawab :

"Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, dari pada dijadikaan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal sholih ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya".

Subhaanallah, kita sebagai manusia dikatai sama cacing, cacing lebih bersyukur dijadikan sebagai cacing. Dalam sabda Rasulullah "Semua makhluk bisa mendengar adzab kubur, kecuali Jin dan Manusia".

Karena cacinglah yang menjadi saksi akan adzab kubur yang mengerikan itu. cacing yang menemani kita ketika kita sudah mati.

Sumber : http://danish56.blogspot.com/2011/05/percakapan-malaikat-jibril-kerbau.html
03.42 | 0 comments | Selengkapnya

Kontroversi The Passion : Menyulut Anti-Semitisme?

Sebelum filmnya sendiri secara resmi beredar, The Passion telah menyulut kontroversi sengit. Film garapan Mel Gibson ini berdasarkan dua belas jam terakhir kehidupan Yesus seperti yang diuraikan dalam Perjanjian Baru. Dikhawatirkan film ini akan menyulut kembali anti-Semitisme.

Rabbi Marvin Hier, pendiri Simon Wiesenthal Center, meminta Gibson "memastikan bahwa film barunya... tidak menggambarkan orang Yahudi secara kolektif bertanggung jawab atas penyaliban Yesus." Lebih lanjut Rabbi Hier mengatakan, "Kalau film baru ini mengingkari (konsili) Vatikan II... akan mengobarkan lagi tuduhan terhadap orang Yahudi sebagai pembunuh Tuhan. Gereja Katolik sendiri memerlukan waktu 20 abad untuk akhirnya menanggalkan pandangan tersebut."

Kekhawatiran serupa dilontarkan oleh Rabbi Eugene Korn, direktur Anti-Defamation League's Office of Interfaith Affairs. Menurutnya, film ini bisa "merusak dialog Kristen-Yahudi dan memutar balik jarum jam kemajuan positif hubungan antariman."

Mel Gibson sendiri, sutradara peraih Oscar lewat Braveheart, menyadari bahwa membuat film tentang Yesus memang berisiko tinggi dan cenderung provokatif. "Karena hal ini sangat personal bagi setiap orang," jelasnya. "Maksud saya, tidak ada seorang pun yang tidak terpengaruh. Sungguh, setiap orang. Setiap bangsa dan setiap kepercayaan terpengaruh oleh Kristus dalam satu atau lain cara, dan setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang siapa Dia, apakah Dia dan mengapa, atau apakah mereka mempercayai-Nya. Dan itulah sebenarnya maksud film saya, menunjukkan berbagai gejolak di seputar diri-Nya secara politis dan dengan pemimpin agama dan orang banyak, semuanya karena siapa Dia sesungguhnya."

Dalam wawancara dengan Bill O'Reilly dari Fox News, sutradara dan aktor Katholik ini bercerita lebih jauh tentang latar belakang pembuatan The Passion (baca: "Saya Ingin Bersikap Sejujur Mungkin").

Menarik pula dicatat, pemeran dan awak film ini justru berasal dari berbagai bangsa, antara lain Rumania, Aljazair, Tunisia, Bulgaria, Israel, Italia dan AS. Gibson bangga menyaksikan keharmonisman mereka.

"Pemeran dan awak film ini dari berbagai ras dan agama - Muslim, Yahudi, Kristen, Budha, bahkan Agnostik. Dan semua bekerja sama secara harmonis dan nyatanya, mereka semua mendapatkan sesuatu dari sini. Orang tersentuh dan bahkan berubah melalui pengalaman semacam ini," tuturnya.

"Mereka seharusnya meminta kami menjalankan PBB," tambahnya setengah bergurau. Pertengahan Juli lalu film ini diputar untuk kalangan terbatas. Debat pun kian memanas dengan munculnya berbagai ulasan, baik yang positif maupun yang negatif.

Cal Thomas dari Washington Times mengatakan, "Sebagai orang yang telah menonton hampir seluruh epik Alkitab modern - dari The Ten Commandments-nya Cecil B. DeMille sampai miniseri Yesus di CBS tiga tahun lalu - saya dapat mengatakan The Passion adalah penggambaran [kisah Yesus] yang paling indah, mendalam, akurat, mencekam, realistis dan penuh darah."

Joseph Farah dari WorldNetDaily menyanjung, "[Film ini] menggugah saya, mengubah saya, mengilhami dan menguatkan iman saya.... Sulit memang menyaksikan gambaran penderitaan dan kematian yang begitu gamblang - sekalipun kita mengetahui hasil akhirnya. Kita semua perlu melihat dan memahami kengerian ini."

Ia menambahkan, "Saya ingin mengatakan pada sahabat-sahabat saya orang Yahudi: Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan dari film ini. Buanglah kekhawatiran itu. Lupakanlah. Ini film Kristen yang indah dan inspirasional, yang sama sekali tidak memojokkan orang Yahudi."

Don Hodel, presiden Focus on the Family, berkomentar, "Saya sangat terkesan. Ini adalah gambaran sengsara Kristus paling mencekam yang pernah saya lihat atau saya dengar. Film ini akurat secara historis dan secara theologis." Sebaliknya, Paula Fredricksen dari The New Republic menggambarkan The Passion sebagai "film yang anti-sejarah, anti-intelektual dan anti-Semit."

Jadi, bagaimana? Lebih baik kita tunggu saja filmnya yang secara resmi akan beredar Paskah 2004. Sementara itu, ada pertanyaan yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut: Benarkah teks kitab Injil - yang juga melandasi The Passion - "berbau" anti-Semitisme?

Sumber : http://geocities.ws/denmasmarto/artikel27.html
03.06 | 0 comments | Selengkapnya

Para Atheis Kumpul Bahas Islam dan Terorisme

Konvensi Atheis Global yang berlangsung di Melbourne, Australia, berlangsung selama tiga hari dari 12-14 Maret 2010. Terdapat puluhan tokoh atheis yang akan menampilkan pandangannya dalam sejumlah sesi dalam acara yang berlangsung di Melbourne Convention and Exhibition Centre ini.


BBC melaporkan, salah tema yang dibahas adalah mengenai "Islam dan terorisme" dalam sesi berjudul "Harga dari Khayalan." Para peserta yang diperkirakan mencapai 2.500 orang ini nanti juga mendengarkan proposal film dan pembeberan dana publik yang dihabiskan untuk mensubsidi agama.

Selain itu, juga ada satu sesi untuk membahas "Fundamentalisme Atheistik" yang ingin dijauhi para peserta. Kemudian hasil pertemuan ini nanti adalah semacam pernyataan bersama mengenai efek-efek negatif dari agama. Menurut BBC, pertemuan ini merupakan konvensi atheis terbesar di dunia. Sejumlah nama besar yang dikenal sebagai atheis terlibat dalam acara ini seperti Richard Dawkins, Taslima Nasrin, Peter Singer, John Perkins, Robyn Williams, hadir dalam acara ini.

Saking ramainya, "Daftar tunggu tiket untuk Konvensi Atheis Global telah ditutup." Begitu bunyi pengumuman di www.atheistconvention.org.au, Sabtu 13 Maret 2010. Sehingga bagi yang masuk daftar tunggu, berharaplah mendapatkan tiket dari orang yang ingin menjual tiket yang hanya dijual sebanyak 2.500. Salah satu nama terkenal yang menjadi peserta aktif dalam konvensi ini adalah Taslima Nasrin. Taslima dilahirkan di sebuah keluarga muslim di India pada 1962. Meski kemudian berprofesi sebagai dokter, Taslima sering menulis tema-tema kontroversial bagi masyarakat India yang dikenal relijius itu.

Pada tahun 1993, novel dokumenternya "Lajja" dilarang pemerintah Bangladesh. Taslima bahkan dikenakan fatwa halal untuk dibunuh. Sejak 1994, Taslima kemudian hidup eksil di Swedia dan kemudian berkembang menjadi simbol kebebasan berpendapat.

Sumber : http://dunia.vivanews.com/news/read/136244-para_atheis_kumpul_bahas_islam_dan_terorisme
02.47 | 0 comments | Selengkapnya

Buku terkenal yang menimbulkan kontroversi sepanjang jaman

Buku -buku ini menimbulkan kontroversi dikarenakan berisi hal-hal yang tidak umum atau lazim terjadi di masyarakat,bahkan memuat hipotesa ataupun panduan tentang hal-hal yang banyak tidak disukai oleh masyarakat luas, inilah daftar buku yang menjadi kontroversi sepanjang jaman.

1.  The Holy Blood and Holy Grail


Ini adalah buku nonfiksi dimana Dan Brown sebagai pengarang buku Da Vinci code mendapatkan sebagian besar ide-idenya dari buku ini. buku ini cukup kontroversial, Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln yang menulis buku ini, dan diterbitkan pada tahun 1982 di Inggris. Buku Ini menyatakan kasus bahwa Yesus bukan tuhan, menikah dan melakukan hubungan seks dengan Maria Magdalena, memiliki anak darinya, dan anak-anak atau keturunan mereka beremigrasi ke Gaul (Perancis), dan mendirikan Dinasti Merovingian, diantaranya dua yang paling terkenal adalah raja Francis , Charles Hammer, dan Charlemagne.

2.  The Kitab Mormon

Yang satu ini kontroversial karena alasan tertentu. The Mormon ditulis oleh Joseph Smith, mengkalaim bahwa bukunya merupakans salah satu buku penerus setelah Al- kitab Injil,sehingga menimbulakan kontroversi bagi sebagian besar pemeluk Kristen.


Dan Smith dalam bukunya berkeinginan untuk mempunyai banyak istri. Smith tidak diizinkan oleh hukum Amerika Serikat untuk menikah lebih dari satu istri, sehingga ia menciptakan agama baru dan mendapatkan banyak pengikut sehingga dapat menjalankan keyakinannya untuk beristri lebih dari satu. Mormon percaya beberapa hal yang aneh, dalam hal kekristenan mendasar, yaitu bahwa Allah telah melakukan seks fisik dengan malaikat, dan ketika seorang Mormon meninggal, ia menjadi Tuhan di alam semesta lain, dan bahwa Tuhan mengurus penduduk asli Amerika kuno, mungkin dari sejak tahun 2.500 SM.

3.  The God Delusion

Juara dalam Ateis , juara dalam mencela, Itulah julukan Richard Dawkins pengarang buku The Allah Delusion. Ini adalah perdebatan panjang tentang Ketuhanan hingga saat ini, dan sukses terbesar secara komersial . dengan terjual lebih dari 2 juta kopi. Dawkins dianggap sebagai penyebar agama sebagai khayalan, Dia berjalan melalui proses logis menghancurkan pemahaman tentang Allah dalam bentuk apapun, kemudian membahas sifat moralitas, apakah memerlukan agama untuk bekerja ?


Buku ini menimbulkan perdebatan yang menegangkan antara ateis dan teis, beberapa buku telah ditulis mengutuk buku Richard Dawkins dan dua orang lain, yaitu Sam Harris dan Christopher Hitchens, yang juga menulis buku tersebut, sehingga disebut oleh kebanyakan orang Kristen sebagai Trinitas Unholy, jaman sekarang.

4.  Sang Pangeran


Buku karya Niccolo Machiavelli mempunyai reputasi yang buruk selama berabad-abad sebagai penuntun seseorang menjadi tirani. Machiavelli berpendapat bahwa penguasa terbaik adalah seseorang yang mempunyai pengikut orang-orang yang mencintainya. Buku ini lebih dari filsafat politik, dan gagasan yang hebat tentang kemandirian. Tapi ini dapat dengan mudah diambil sebagai "tidak membantu siapa pun, karena mereka harus membantu dirinya sendiri." Kemandirian adalah salah satu prinsip pendiri Gereja Setan modern, sebutan untuk perbandingan buku ini yang banyak dibuat.

Secara umum, banyak yang membenci buku ini karena muncul metode yang sangat efisien yang digunakan untuk membuat tiran korup.

5.  Manifesto Komunis

Karl Marx seharusnya ditegur, bukan untuk alam yang kontroversial, tetapi untuk menulis buku yang paling membosankan dalam sejarah. Idenya berasal dari observasi bahwa semua perselisihan umat manusia, sejak awal sejarah kita sekarang, tidak lebih dari perjuangan status social.


Karena itu ia berusaha untuk menghapuskan kelas, dan membentuk sistem pemerintahan di mana tidak ada kelas atas atau kelas bawah, tetapi semua orang dibayar dengan jumlah yang sama untuk apa pun pekerjaan mereka, dari Presiden sampai prajurit. Mereka semua akan mendapatkan jenis makanan yang sama, jumlah yang sama, mobil dan rumah yang sama, semuanya.

Sayangnya, system itu tidak bekerja sebagai mana mestinya, Seseorang selalu ingin lebih banyak atau lebih baik. Sebenarnya, semua orang tidak ingin di perlakukan sama. Hal itu terlihat sebagai kebalikan dari demokrasi, bukan karena filosofinya, Negara Uni Soviet memperjuangkan filosofi Karl Mark , yang Amerika Serikat sangat tidak menyukainya selama Perang Dingin.

Sumber : http://auliasubhan.blogspot.com/2011/03/5-buku-terkenal-yang-menimbulkan.html
02.40 | 0 comments | Selengkapnya

Kontroversi Konvensi Atheis di Australia

Para orang yang tak percaya Tuhan ini datang dari segala arah: dari Perth, Sydney, Brisbane, Selandia Baru, Amerika Serikat, Inggris, dan lain-lain. Ada pasangan bulan madu. Ada yang baru berpaling dari iman Katolik. Tujuannya satu, Melbourne Australia.

Seorang warga keturunan Irak yang telah bermigrasi ke Australia 40 tahun lalu memberikan 4.000 dolar uangnya untuk acara ini: Konvensi Atheis Global 2010. Dia menjadi satu dari 2.500 orang yang mendapatkan tiket masuk ke acara di Melbourne Convention Centre.

"Namun apakah Anda bisa tak bicara apapun?" kata seseorang bertanya pada David Nicholls, Presiden Yayasan Atheis Australia dan salah satu panitia acara. Dan pertanyaan itu terjawab, setiap sesi selalu kekurangan waktu bagi pembicara untuk memaparkan pandangannya.

Konvensi ini adalah buah pikiran Stuart Bechman, Presiden Aliansi Internasional Atheis. Bechman kehilangan kepercayaan ketika berkuliah, meninggalkan agama Kristen Methodis yang dianut keluarganya. Bechman mengaku tersesat dalam ketidakpercayaan.

"Sebagian atheis dibesarkan seperti itu," ujar Bechman kepada The Australian. "Sebagian lagi datang dari latar belakang relijius. Saya kira mereka mereka yang datang dari latar belakang relijius menjadi atheis karena kemarahan telah ditipu atau semacam itu, atau mereka semakin mendekat dan mengerti bahayanya," kata Bechman. Bechman lalu memutuskan untuk berorganisasi karena dia merasa butuh untuk "melawan bahaya."

Dan dia lalu berpikir mengadakan pertemuan global para atheis. Melalui jaringannya, jadilah acara digelar mulai 12-14 Maret 2010. Di luar bayangan, tiketnya terjual habis. Sejumlah tokoh-tokoh terkenal yang secara terbuka menyatakan diri atheis menjadi pembicara. Mulai dari penulis Richard Dawkins, filsuf Peter Singer, sampai penulis yang difatwa hukum pancung di Bangladesh, Taslima Nasrin, hadir dalam acara ini.

Dawkins bicara mengenai bahaya agama. Taslima yang datang dengan pengawalan tiga orang berjas itu bicara tentang masa kecilnya sebagai anak dari keluarga Islam di India. "Mengapa kita harus sembahyang dalam bahasa Arab, jika Tuhan adalah Maha Tahu, bukankah dia mengerti sembahyang dalam Bahasa Benggali?" katanya bertanya pada ibunya di saat kecil.

John Perkins, ekonomis yang terkenal lewat bukunya "A Confession of an Economic Hit Man" bicara mengenai Islam and terorisme. Peter Singer, filsuf Australia, bicara mengenai dunia ethis yang ditempati bersama oleh yang percaya dan tak-percaya. Tak lupa Singer bicara, tiga dari empat dari penderma terbesar di abad 20 adalah atheis: Bill Gates, Warren Buffet dan Andrew Carnegie. Hanya Nelson D. Rockefeller yang menganut Protestan.

Sementara di dalam ruangan sedang berlangsung pembicaraan hangat mengenai agama dan kepercayaan itu, beberapa orang penganut Kristen dengan terbuka menyebarkan buku dan tulisan di luar tempat acara. Seorang warga Selandia Baru, Ray Comfort, tampak sibuk membagikan kopian buku teori evolusi "Origin of Species" di kampus-kampus termasuk Universitas Melbourne. Kopian itu memasukkan edisi khusus dukungan terhadap teori penciptaan yang ditulis sendiri oleh Comfort. Bagi Comfort, teori evolusi tak pernah terbukti.

"Inilah kota di mana saya selama 12 tahun, mencurahkan hati di sudut bicara. Lebih dari 3.000 kali saya berdiri di atas kotak dan berbicara di keramaian agar orang memikirkan Tuhan." Sementara itu, sebuah organisasi Kristen berencana menandingi pertemuan para atheis dengan membuat sebuah seminar pada Minggu siang di tempat yang sama.

Sumber : http://dunia.vivanews.com/news/read/136421-kontroversi_konvensi_atheis_di_australia
02.26 | 0 comments | Selengkapnya

Agnostik Menurut Bertrand Russell

Tidak. Seorang atheis, seperti halnya penganut Kristiani, mempercayai bahwa ia dapat mengetahui ada atau tidak adanya Tuhan. Penganut Kristiani mengatakan bahwa ia dapat mengetahui Tuhan itu ada; kaum atheis menyatakan bahwa kita dapat mengetahui Tuhan itu tidak ada. Orang agnostik menunda pengambilan keputusan, dengan menyatakan bahwa tidak cukup bukti untuk menegaskan atau menolak adanya Tuhan. Pada saat bersamaan, orang agnostik mungkin mengatakan bahwa eksistensi Tuhan meskipun bukan tidak mungkin, sangat kecil kemungkinan adanya; ia mungkin menyatakan begitu kecil kemungkinan adanya Tuhan, maka Tuhan pada kenyataannya tidak cukup bermakna untuk dipakai sebagai bahan pertimbangan. Dalam hal demikian, Tuhan disingkirkan tak jauh berbeda seperti dalam atheisme. Sikapnya adalah mirip seperti filsuf yang teliti terhadap dewa-dewa Yunani Kuno. Apabila saya disuruh membuktikan bahwa Zeus dan Poseidon dan Hera dan dewa-dewi Olympia lainnya tidak ada, maka saya pasti kebingungan dalam memberikan argumen yang memadai. Orang agnostik akan berpendapat bahwa Tuhan orang Kristiani sama kecil kemungkinan adanya dengan dewa-dewi Olympia; dalam hal demikian, untuk mudahnya ia sama dengan orang atheis.

Oleh karena Anda menolak “hukum Tuhan”, otoritas apa yang Anda terima sebagai pedoman hidup?

Orang agnostik tidak menerima “otoritas” apapun sebagai mana halnya yang diterima oleh orang beragama. Dipercayai bahwa orang harus memikirkan sendiri masalah pedoman hidup. Tentu saja, ia akan mengambil keuntungan dari pengalaman orang lain, tetapi harus dipilihnya sendiri orang-orang yang dianggapnya bijak, dan sama sekali tidak akan menganggap bahwa apapun yang dikatakannya tak boleh dibantah. Teramati bahwa apa yang ditentukan oleh “Hukum Tuhan” itu selalu berubah setiap saat. Injil mengatakan bahwa wanita tiak boleh kawin dengan saudara laki-2 dari suami yang telah meninggal, dan bahwa dalam keadaan tertentu wanita harus kawin dengannya. Jika anda kebetulan seorang janda tak beranak dan masih ada ipar yang belum kawin, maka logikanya anda tak boleh menghindari “hukum Tuhan.”

Bagaimana Anda mengetahui baik dan buruk? Apakah yang dianggap Dosa oleh orang agnostik?

Orang agnostik tidak begitu pasti sebagaimana yang diyakini penganut Kristiani terhadap apa yang disebut baik dan buruk. Tidak akan diklaim seperti yang diklaim penganut Kristiani di masa lalu bahwa orang yang tak setuju dengan perintah mengenai theologi yang absurd harus menerima hukum mati yang menyakitkan. Hukum mati demikian ditentang, dan lebih hati-hati mengenai tuduhan moral.

Kata “dosa” dianggap bukan sebagai ide yang ada gunannya. Tentu saja diakui bahwa sebagian macam tindakan adalah patut dan sebagian lagi tidak patut, tapi diyakini bahwa hukuman untuk tindakan yang tidak patut hanya diterapkan jika dimaksudkan untuk menghindari atau memperbaiki, bukan karena hukuman itu memang dianggap baik dan dengan pikiran bahwa orang jahat harus menderita. Kepercayaan inilah yang ada dalam hukuman balas dendam sehingga orang menerima idee neraka. Ini adalah bagian merugikan yang telah diakibatkan oleh adanya ide “dosa”.

Apakah orang agnostik melakukan apapun asal dikehendakinya?

Dalam satu hal tidak, dilain hal siapapun akan melakukan apa yang dikehendakinya. Kalau misalnya Anda begitu membenci seseorang sampai Anda mau membunuhnya: Kenapa tidak? Anda akan menjawab: “Sebab agama mengatakan bahwa pembunuhan adalah dosa.” Namun dalam kenyataan statistik, orang-orang agnostik tidak lebih cenderung melakukan pembunuhan dari pada orang lain, dan kenyataannya kecenderungan mereka memang lebih kecil. Mereka mempunyai motif sama untuk tidak melakukan pembunuhan sebagaimana orang lain. Jauh dalam lubuk hatinya, motif paling kuat adalah takut dihukum. Namun dalam keadaan tanpa hukum, seperti demam menambang emas, segala macam orang akan melakukan kejahatan, meski dalam keadaan normal mereka adalah orang-orang yang taat pada hukum. Bukan hanya karena adanya hukuman, tapi juga ada rasa tidak nyaman mengetahui hal menakutkan itu, dan rasa sepi karena mengetahuinya, untuk menghindari kebencian orang, anda harus memakai topeng meski dengan teman terdekat anda sekalipun. dan dan ada lagi yang sering disebut “conscience”: Jika anda pernah berangan-angan untuk membunuh, anda akan takut pada ingatan yang mengerikan saat-saat terakhir tubuh korban anda tak bernyawa. Semua ini benar, ya, tergantung pada kehidupan anda dalam masyarakat yang taat hukum, tetapi banyak sekali alasan-alasar non agama/sekuler yang dipakai untuk menciptakan dan dan mengabadikan masyarakat demikian.

Saya katakan ada alasan lain mengapa siapapun akan melakukan apa yang diinginkannya. Tak seorangpun kecuali orang tolol yang menuruti segala keinginan, tetapi apa yang menahan keinginan in check adalah selalu merupakan meinginan yang lain. Keinginan anti-sosial seseorang dapat di kendalikan oleh keinginan untuk menyenangkan Tuhan, tapi dapat juga dikendalikan oleh keinginan untuk menyenangkan teman-temannya, atau mendapatkan respek penghormatan dari masyarakatnya, atau agar dapat mencitrakan dirinya sendiri tanpa rasa jijik. Namun jika tak memiliki keinginan-2 tersebut, maka satu-2 nya aturan abstrak moralitas tak akan dapat meluruskan orang itu.

Bagaimanakah anggapan orang agnostik terhadap Injil?

Orang agnostik menganggap Injil tepat sebagaimana yang dianggap oleh seorang enlightened clerics. Tidak dianggapnya sebagai inspirasi illahi; akan dianggapnya sebagai legenda sejarah awal, dan tak lebih akurat dari pada yang tertulis dalam Homer; dianggapnya ajaran moral yang terkandung didalamnya kadang baik, tapi kadang sangat buruk. Misalnya, Samuel memerintahkan Saul dalam perang untuk tidak saja membunuh tiap laki-laki, wanita, dan anak-anak lawan, tapi sampai semua biri-biri dan ternak sapinya. Namun demikian Saul tetap membiarkan biri-biri dan ternak sapi hidup, dan untuk hal ini kita disuruh mengutuknya. Saya tak pernah mampu menyenangi Elisha karena mengutuki anak-anak yang mengolok-oloknya, atau mempercayai (yang dinyatakan Injil) bahwa Dewa yang baik hati akan mengirimkan beruang jadi-jadian untuk membunuh anak-anak tersebut.

Bagaimanakah anggapan orang agnostik terhadap Jesus, Kelahiran oleh Sang Perawan, dan Trinitas yang Suci?

Karena orang agnostik tidak percaya Tuhan, tak dapat dipercayai bahwa Jesus adalah Tuhan. Kebanyakan orang-orang agnostik menghargai kehidupan dan ajaran Jesus sebagaimana ditulis dalam Injil, tetapi tidak harus melebihi penghargaan terhadap orang lain. Ada yang menempatkan Jesus sama dengan sang Buddha, sebagian dengan Socrates dan dan lainnya dengan Abraham Lincoln. Mereka juga tidak menganggap apa-apa yang dikatakannya tidak boleh dibantah, oleh karena orang Agnostik tidak menerima suatu otoritas sebagai hal yang absolute.

Orang Aganostik Menganggap Kelahiran Sang Perawan sebagai satu doktrin yang diambil dari mitologi pagan/kafir, dimana kelahiran demikian bukan hal yang aneh (Zoroaster dikatakan terlahir dari seorang perawan; Ishtar, the dewi Babylon, yang disebut sebagai the Holy Virgin/Perawan Suci). Mereka tak dapat memberikan kepercayaannya kepada hal tersebut, ataupun kepada doktrin Trinitas, karena keduanya tidak mungkin tanpa adanya kepercayaan pada Tuhan.

Dapatkah orang agnostik menjadi penganut Kristiani?

Kata "Kristiani” mempunyai berbagai makna dalam waktu yang berbeda. Selama berabad-abad sejak jama Kristus, kata itu berarti orang yang percaya apada Tuhan dan keabadian dan serta bahwa Kristus adalah Tuhan. Tetapi kaum Unitarians menyebut diri mereka penganut Kristiani meski tidak percaya akan keIlahian Kristus, dan banyak orang saat ini menggunakan kata “Tuhan” dengan arti yang kurang pas dibandingkan dengan arti jaman sebelumnya. Banyak orang yang sekarang mempercayai Tuhan tidak lagi bermakna person/manusia, atau trinitas dari person, namun hanya berupa kecenderungan kabur atau kekuatan atau maksud dan tujuan immanent dalam evolusi. Lebih jauh lagi, orang lain mengartikan “Kristianitas” hanyalah sebuah sistem etika yang dibayangkan sebagai karakter penganut Kristiani saja, karena mereka tidak peduli dengan masalah kesejarahan.

Dalam buku yang baru diterbitkan, ketika saya katakan bahwa apa yang diperlukan dunia adalah “cinta, cinta Kristiani, atau kepedulian/compassion,” banyak yang menyangka hal ini menunjukkan adanya perubahan dalam pemikiran saya, meski kenyataannya mungkin saya katakan hal yang sama kapanpun. Jika yang Anda maksudkan “Penganut Kristiani” berarti orang yang mencintai tetangganya, yang sangat bersimpati terhadap penderitaan, dan yang sangat menginginkan agar dunia bebas dari kebuasan dan kebencian yang jaman sekarang ini diabaikan, maka jelas Anda mendapat justifikasi untuk menyebut saya seorang Kristiani. Dan dalam hal ini, saya kira anda akan dapat menemukan lebih banyak “penganut Kristiani” diantara orang-orang agnostik dibandingkan dalam kalangan orthodoks. Namun menurut saya, Saya tak dapat menerima definisi demikian. Selain penolakan lainnya, namapaknya agak kasar bagi orang Yahudi, Buddhis, Muslim, penganut non Kristianilainnya, yang sepanjang sejarah ditunjukkan oleh sejarah, paling tidak cenderung untuk melakukan moralitas diklaim dengan arogan oleh penganut Kristiani sebagai unik milik agama mereka sediri.

Saya kira juga bahwa siapapun yang menyebut diri penganut Kristiani di jaman-jaman awal, dan dah sebagian besar orang yang melakukannya sampai saat ini, akan menganggap bahwa kepercayaan pada Tuhan dan immortalitas adalah essensial bagi penganut Kristiani. Dengan dasar ini, saya menyebut saya sendiri sebagai penganut Kristiani, harus saya katakan bahwa orang agnostik tak dapat menjadi penganut Kristiani. Namun jika kata “Kristianitas” ternyata digunakan secara umum dulunya hanya berarti sejenis moralitas, maka jelaslah mungkin bagi seorang agnostik untuk menjadi penganut Kristiani.

Apakah Orang agnostik menolak bahwa manusia punya Jiwa?

Pertanyaan ini tidak mempunyai arti yang tepat kecuali kita diberi definisi sari kata “jiwa”. Saya kira yang dimaksudkan secara kasar adalah sesuatu nonmaterial yang berada dalam seluruh hidup seseorang bahkan, bagi yang mempercayai immoralitas, sepanjang waktu-waktu yang akan datang. Jika yang begitu maksudnya maka orang agnostik mungkin tidak akan percaya bahwa manusia mempunyai jiwa. Tetapi akan segera saya tambahkan bahwa hal ini tidak berarti orang agnostik pasti penganut materialis. Banyak orang-orang agnostik (termasuk saya sendiri) sangat ragu pada tubuh sebagaimana ketidak tahuan mengenai jiwanya, namun ini adalah cerita lama untuk mempertimbangkan metafisik yang sulit ini. Baik jiwa maupun materi harus saya katakan adalah simbol yang mudah dalam satu diskursus, sebenarnya bukan sesuatu yang eksis.

Apakah orang agnostik percaya Akhirat, Surga atau Neraka?

Pertanyaan mengenai apakah orang akan hidup setelah mati adalah pertanyaan mengenai bukti mana yang memungkinkan. Riset fisika dan spiritualisme dianggap oleh banyak orang dapat memberikan buktinya. Orang agnostik dengan demikian tidak mempunyai pandangan mengenai kelangsungan jiwa kecuali dianggapnya ada bukti yang serba sedikit-pun. Menurut pandangan saya sendiri, saya anggap tidak ada alasan memadai untuk mempercayai bahwa kita akan hidup lagi setelah mati, namun saya terbuka untuk percaya jika ada bukti yang memadai.

Surga atau neraka adalah hal lain lagi. Percaya pada adanya neraka terikat pada adanya kepercayaan bahwa hukuman pembalasan atas dosa adalah hal yang baik, sangat terpisah dari tujuan pencegahan atau perbaikan yang mungkin dapat diberikan. Orang agnostik hampir tak percaya akan hal ini. Sehubungan dengan surga, barangkali ada bukti yang dapat diraba dengan eksistensinya melalui spiritualisme, namun kebanyakan orang-orang agnostik menganggap tidak ada bukti demikian, dan oleh karenanya tidak mempercayai adanya surga.

Apakah anda tak pernah takut pada pembalasan Tuhan karena menolak-Nya?

Tentu tidak. Saya juga menolak Zeus dan Jupiter dan Odin dan Brahma, namun hal ini tidak menyebabkan kebingungan/keraguan bagi saya. Saya perhatikan bahwa sebagian besar dari umat manusia tidak percaya Tuhan dan tidak menderita hukuman yang nyata karenanya. dan jika memang ada Tuhan, saya kira Tuhan itu tidak akan merasa tak nyaman karena ditolak eksistensinya.

Bagaimana Orang Agnostik menerangkan keindahan dan harmoni Alam?

Saya tak tahu dimana ketemunya “keindahan” dan “harmoni”. Dalam kelompok kerajaan binatang, binatang-binatang itu saling memakan. Kebanyakan dari mereka terbunuh dengan kejam oleh binatang lain atau mati pelan-pelan karena kelaparan. Menurut saya sendiri, saya tak bisa melihat keindahan luar biasa atau harmoni dalam diri Cacing Pita. Janganlah dikatakan bahwa binatang ini dikirim sebagai hukuman atas dosa-dosa kita, sebab binatang itu lebih banyak terdapat pada binatang dibandingkan manusia. Saya kira si penanya sedang memikirkan keindahan langit yang penuh bintang. Akan tetapi harus diingat bahwa bintang kadang meledak dan menghancurkan tetangga sekitarnya menjadi asap yang gelap. Keindahan, dalam segala hal adalah subyektif dan hanya ada di mata orang yang memandangnya saja.

Bagaimana Orang Agnostik menjelaskan mukjizat dan wahyu lain dari Tuhan YME?

Orang-orang agnostik beranggapan tidak ada bukti “mukzizat” dengan arti kejadian-kejadian yang bertentangan dengan Hukum Alam. Kita tahu bahwa penyembuhan dengan iman dapat terjadi dan sama sekali bukan mukjizat. Di Lourdes, penyakit tertentu dapat disembuhkan dan lainnya tidak dapat disembuhkan. Yang dapat tersembuhkan dapat saja disembuhkan oleh dokter manapun terhadap pasien yang beriman. Menurut catatan mukjizat lain, seperti Joshua yang memerintahkan Matahari agar diam, orang agnostik menolaknya dan menganggap hanya legenda dan menunjukkan bahwa semua agama penuh dengan legenda yang begitu. Sama banyaknya mukjizat yang ada pada dewa-dewa Yunani dalam cerita Homer seperti halnya Tuhan Kristiani dalam Injil.

Banyak nafsu rendah dan jahat yang ditentang agama. Jika Anda meninggalkan prinsip-prinsip keagamaan, dapatkan umat manusia terus eksis?

Adanya nafsu rendah dan jahat tak dapat ditolak, tapi tak saya temui bukti dalam sejarah bahwa agama-agama telah menentang nafsu-nafsu tersebut. Sebaliknya, malah disucikan, dan memungkinkan orang untuk mentolerirnya tanpa rasa sesal. Hukuman kejam lebih umum terjadi dalam Kristiani dibandingkan tempat lainnya. Apa yang nampak dapat membenarkan hukum mati adalah kepercayaan dogmatis. Keramahan dan toleransi hanya terjadi sejalan dengan berkurangnya kepercayaan dogmatis. Dalam jaman kita sekarang, agama baru yang dogmatis, yakni komunisme telah muncul. Untuk itu, sebagai mana terhadap sistem dogma lainnya, orang agnostik ditenentangnya. Ciri hukum-menghukum komunisme jaman ini persis seperti Ciri hukum-menghukum Kristianitas di abad dahulu. Dengan berlangsungnya waktu, Kristianitas kurang cenderung menghukum, ini adalah hasil kerja para penganut berfikir bebas yang menjadikan penganut dogmatis berkurang ke-dogmatisannya. Jika mereka tetap dogmatis seperti jaman dulu, mereka akan tetap menganggap benar membakar orang yang tak percaya. Semangat toleransi yang dianggap oleh penganut Kristiani modern sebagaimana Kristiani, pada kenyataannya merupakan produk moderasi yang memperkenankan ketidak-jelasan dan mencurigai kepastian absolut. Saya kira siapapun yang meneliti sejarah tanpa memihak akan menuju kesimpulan bahwa agama-agama telah mengakibatkan penderitaan dari pada yang telag diselamatkannya.

Apakah arti hidup bagi Orang Agnostik?

Saya cenderung menjawabnya dengan pertanyaan lain: Apa maksudnya “arti hidup” ? Saya kira itu adalah apa yang dimaksudkan sebagai tujuan umum. Saya tidak menganggap bahwa hidup itu ada tujuannya. Cuma asal terjadi saja. Tetapi tiap individu memiliki tujuan hidup tertentu, dan tak ada alasan dalam agnostisisme untuk meninggalkan tujuan-tujuan hidup ini. Tentu mereka tidak pasti yakin akan dapat mencapai hasil yang diusahakannya; namun anda akan menganggap gila jika seorang tentara menolak tugas bertempur sampai ia yakin pasti menang. Orang yang memerlukan agama untuk menekankan tujuan hidupnya sendiri adalah orang yang ketakutan, dan saya tidak dapat menanggapnya pula sebagai orang yang mencari jalan aman, meski mengakui juga bahwa kekalahan bukan merupakan hal yang tak mungkin.

Apakah penolakan terhadap agama berarti penolakan terhadap perkawinan dan kesetiaan?

Lagi, hal ini akan dijawab dengan pertanyaan: Apakah orang yang mempertanyakan ini percaya bahwa perkawianan dan kesetiaan dapat meningkatkan kebahagiaan di dunia, atau apakah ia mengaanggap bahwa perkawinan dan kesetiaan itu, meski menyebabkan kseusahan di dunia, dipakai sebagai alat mencapai surga? Orang yang mengambil pandangan terakhir jelas tak dapat mengharapkan agnostisisme akan menyebabkan menurunnya moralitas, namun harus kita akui bahwa moralitas adalah sebab utama adanya kebahagiaan umat manusia dalam kehidupannya di dunia. Jika sebaliknya ia mengambil pandangan pertama yaitu bahwa ada argumen yang membumi untuk perkawinan dan kesetiaan, harus juga diyakininya bahwa argumen-argumen ini mesti meyakinkan juga bagi orang agnostik. Orang agnostik dengan demikian tidak mempunyai pandangan berbeda mengenai moralitas seksual. Akan tetapi kebanyakan akan mengakui bahwa, ada argumen yang shahih untuk menentang toleransi terhadap nafsu seksual tanpa kendali. Namun demikian, akan mendasarkan argumen ini pada sumber-sumber membumi yang jelas dan bukan berdasarkan dugaan perintah keilahian.

Apakah keimanan karena logika saja merupakan kepercayaan yang berbahaya?

Bukankan logika tidak sempurna dan tidak memadai tanpa hukum spiritual dan moral? Tak seorangpun yang mau memakai otak meski ia agnostik, “hanya mengimani logika saja”. Logika berkaitan dengan kenyataan, sebagian teramati, sebagian lagi disimpulkan. Pertanyaan apakah ada kehidupan masa depan dan pertanyaan apakah ada Tuhan berkaitan dengan kenyataan, dan orang agnostik percaya bahwa pertanyaan-pertanyaan itu harus diselidiki mirip dengan pertanyaan, “Apakah akan ada gerhana rembulan besok?” Namun kenyataan saja tidak cukup untuk menentukan tindakan, karena tidak diberitahukan apa tujuan yang harus kita capai. Dalam wilayah tujuan-tujuan, kita memerlukan hal lain selain logika. Orang agnostik menemukan tujuan dalam hatinya sendiri dan bukan dalam perintah dari luar. Coba kita ambil contoh: Misalkan Anda ingin bepergian dengan kereta api dari New York ke Chicago; Anda akan menggunakan logika untuk mengetahui kapan kereta api berangkat, dan orang yang mengira bahwa ia punya kemampuan mengetahui atau intuisi yang menyuruhnya agar menyesuaikan dengan jadwal akan dianggap agak bodoh. Namun tak ada jadwal yang akan memberitahu bahwa pergi ke Chicago adalah bijaksana. Jelas dalam menentukan apakah hal itu bijaksana, ia mesti memperhitungkan fakta-fakta lain; namun dibalik segala fakta, ada tujuan yang dianggapnya cocok untuk diusahakan, dan bagi orang agnostik sebagaimana orang-orang lain, hal-hal ini termasuk dalam wilayah yang bukan wilayah logika, meski tidak harus bertentangan sama sekali dengan logika. Wilayah yang saya maksudkan adalah emosi dan perasaan dan keinginan.

Apakah anda menganggap semua agama sebagai bentuk takhayul atau dogma? Agama-agama mana yang Anda hormati, dan mengapa?

Semua agama besar dan terorganisir yang mendominasi umat manusia sedikit banyak mengandung dogma, tetapi “agama” adalah kata yang maknanya tidak pasti. Sebagai contoh Confucianism dapat disebut agama, meski tidak mengandung dogma. Dan dalam beberapa bentuk kepercayaan Kristen, elemen dogma diperkecil sampai minim.

Dari agama-agama besar sepanjang sejarah, Saya lebih cenderung Buddhisme, terutama dalam bentuknya yang paling awal, sebab agama itu yang melibatkan hukuman paling minim. Komunisme, seperti agnostisisme bertentangan dengan agama. Apakah orang-orang agnostik itu komunis?

Komunisme tidak menentang agama. Hanya menentang agama Kristiani saja, sebagaimana yang ditentang oleh agama Islam (Mohammedanism sic.). Komunisme, paling tidak dalam bentuk yang diciptakan oleh pemerintah Soviet dan Partai Komunis, adalah suatu sistem dogma baru yang maut dan banyak melibatkan penghukuman. Oleh karena itu, tiap orang agnostik asli mesti menentangnya.

Apakah orang-orang agnostik menganggap sains dan agama tak mungkin bersahabat?

Jawabannya kembali pada apa yang dimaksud dengan “agama”. Jika hanya berarti sistem etika, agama dapat akrab dengan sains. Jika hanya berarti sistem dogma, yang dianggap sebagai mutlak benar, maka hal itu tidak cocok dengan semangat ilmiah/sains yang menolak diterimanya kenyataan tanpa bukti, dan juga menganggap bahwa kepastian mutlak jarang sekali tercapai.

Bukti apa yang dapat meyakinkan Anda bahwa Tuhan itu ada?

Saya kira jika saya dengar suara dari langit yang memprediksi segala sesuatu yang akan terjadi pada diri saya dalam waktu 24 jam mendatang, termasuk kejadian-kejadian yang sangat tidak mungkin, dan dan jika hal-hal itu terjadi betul, barangkali saya dapat diyakinkan paling tidak terhadap adanya intelegensia superhuman. Dapat saya bayangkan bukti-bukti lain sejenis yang mungkin dapat meyakinkan saya, namun sampai kini setahu saya tak ada bukti demikian.

Oleh Bertrand Russell, 1953.
Diterjemahkan oleh Setya A. Sis

Sumber : http://nightxiii.deviantart.com/journal/23115650/
02.13 | 0 comments | Selengkapnya

Khilafah vs Demokrasi

Sejak keruntuhan Khilafah pada 28 Rajab 1342 H, 89 tahun lalu, bisa disebut hampir sebagian besar Dunia Islam mengadopsi sistem demokrasi. Harapannya, sistem demokrasi akan membuat Dunia Islam lebih baik, ternyata tidak. Dunia Islam tetap saja mengidap berbagai persoalan yang akut seperti kemiskinan, kebodohan, pembantaian dan konflik yang berkepanjangan.

Di sisi lain, arus besar untuk kembali ke sistem Khilafah semakin menguat. Ada pernyataan berulang: Demokrasi memang tidak sempurna, tetapi sampai saat ini merupakan sistem terbaik untuk melawan sistem totaliter. Muncul pula pertanyaan berulang: Kebaikan apa yang ditawarkan sistem Khilafah untuk menggantikan sistem demokrasi? Bisakah sistem Khilafah mewujudkan harapan-harapan manusia yang gagal diwujudkan demokrasi? Kita tentu menjawab dengan tegas: sistem Khilafah pasti mampu.

Pertama: menjamin kebenaran yang hakiki. Demokrasi telah gagal dalam hal ini. Klaim suara rakyat adalah suara Tuhan dan menganggap suara mayoritas rakyat adalah suara kebenaran tidak terbukti. Bagaimana suara mayoritas rakyat Amerika bagian utara yang melegalkan perbudakan pada abad ke-19 dianggap benar. Demikian juga, sulit diterima sebagai sebuah kebenaran ketika mayoritas wakil rakyat lewat proses demokrasi melegalkan penghinaan terhadap manusia apalagi manusia yang mulia seperti Rasululllah saw., perkawinan homoseksual dan lesbian. termasuk serangan terhadap Irak, Afganistan yang telah membunuh ratusan ribu orang yang dilegalkan lewat suara mayoritas rakyat.

Adapun Islam menawarkan sebuah sistem yang sempurna karena berasal dari Zat Yang Mahasempurna, yaitu Allah SWT. Memang, mungkin saja terjadi penyimpangan dari pelaksaan sistem yang sempurna ini. Namun, dari segi sumbernya sistem Khilafah ini adalah yang terbaik. Sebaliknya, demokrasi sejak dasarnya saja sudah bermasalah ketika kebenaran diserahkan kepada manusia.

Kedua: memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpendapat, memilih pemimpinnya sendiri, berekspresi, mengkritik sesuatu yang keliru. Demokrasi memang mengklaim telah memenuhi seluruh harapan ini. Namun, nilai-nilai liberal kemudian menjadi pilarnya. Akibatnya, kebebasan yang ditawarkan menjadi kebablasan dan mengancam masyarakat sendiri. Bukankah atas dasar kebebasan berekspresi, berpendapat dan berkumpul, kelompok-kolompok homoseksual dan pelaku-pelaku pornografi menginginkan eksistensinya diakui? Ahmadiyah, Lia Eden, dan aliran sesat lainnya pun minta diakui dengan berdalih pada kebebasan?

Di sisi lain, kebebasan yang ditawarkan demokrasi mengidap penyakit hipokrit (standar ganda). Mengklaim kebebasan beragama tetapi melarang pemakaian cadar, jilbab, atau burqa di Eropa. Klaim menghargai pilihan rakyat, tetapi menghadang kemenangan FIS di Aljazair dan Hamas di Palestina, yang sebenarnya menang secara demokratis. Boleh menghujat Nabi Muhammad sekalipun, tetapi siapa pun yang mempertanyakan kebenaran holocaust dikriminalkan. Sudah pula menjadi rahasia umum, terdapat pengekangan terhadap media baik lewat sensor internal pemilik modal media ataupun pemerintah.

Sebaliknya, sistem Islam memberikan ruang bagi masyarakat seluas-luasnya, namun tetap dalam kerangka hukum syariah yang menjadi standar acuan. Dalam sistem Khilafah, kepala negara atau Khalifah dipilih oleh rakyat dengan berdasarkan keridhaan mereka. Mengkritik penguasa yang menyimpang dalam Islam bukan hanya hak, tetapi sekaligus merupakan kewajiban. Pahala sangat besar pun diberikan kepada mereka yang syahid mengkritik penguasa dengan sebutan sebaik-baik jihad (afdhal al-jihad) dan pemimpin para syuhada.

Terdapat juga Mahkamah Mazhalim yang akan menyelesaikan persengketan antara rakyat dan penguasa, kalau rakyat menganggap kebijakan penguasa telah merugikan mereka. Mahkamah Mazhalim juga akan meluruskan keputusan-keputusan Khalifah yang bertentangan dengan hukum syariah.

Adapun Majelis Ummah, tempat tokoh-tokoh yang merupakan representasi dari masyarakat, bisa mengkritik penguasa atau memberikan masukan kepada Khalifah (musyawarah).

Perbedaan pendapat selama masih berlandaskan pada hukum syariah juga dibolehkan dalam Islam. Meskipun Khlifah bisa jadi mengadopsi salah satu pendapat Imam mazhab dalam pemerintahannya untuk diterapkan, perdebatan ilmiah tentang itu tetap saja dibiarkan. Inilah yang membuat dalam sistem Khilafah muncul berbagai mazhab, sebagai cerminan dari pengakuan perbedaan pendapat ini.

Ketiga: menjamin hak-hak mendasar manusia. Ini adalah sesuatu yang gagal dipenuhi oleh sistem demokrasi. Praktik pelanggaran HAM terbanyak dan terbesar justru dilakukan oleh negara-negara kampiun demokrasi seperti AS dan Inggris. Sebaliknya, penerapan syariah Islam akan menjaga nyawa manusia, keturunan, harta dan kehormatan. Di antaranya dengan menjatuhkan sanksi yang keras bagi pelaku pembunuhan, pencuri, pezina dan laon-lain.

Keempat: menjamin kepastian hukum dan persamaan di depan hukum. Syariah Islam yang akan diterapkan oleh Khilafah menjamin hal ini bagi seluruh warga, baik Muslim maupun non-Muslim. Rasulullah saw. menolak makelar hukum yang menginginkan agar perempuan bangsawan tidak dihukum. Rasulullah saw. dengan tegas mengatakan kalaupun anaknya Fatimah mencuri, beliau akan memotong tangannya. Khalifah Ali bin Thalib pernah kalah ketika memperkarakan seorang Yahudi dengan tuduhan telah mencuri baju perangnya. Saat itu hakim menilai Khalifah Ali bin Abi Thalib tidak memilik saksi yang bisa diterima oleh hukum.

Kelima: membuat kebijakan yang pro rakyat. Demokrasi gagal mewujudkan hal ini. Sistem demokrasi telah melahirkan hubungan simbiosis mutualisme antara penguasa dan pemilik modal yang merugikan rakyat. Akibatnya, muncullah kebijakan elit politik yang lebih pro kepada pemilik modal daripada rakyat. Industrialisasi politik, politik transaksional, pragmatisme politik dan suap-menyuap merupakan penyakit kronis demokrasi.

Sebaliknya, Khilafah melalui syariah Islam akan menutup pintu kejahatan ini. Dalam bidang ekonomi syariah Islam juga menjamin kebutuhan pokok tiap individu rakyat, pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Barang tambang yang melimpah (emas, perak, minyak dll), air, hutan dan listrik merupakan milik umum yang digunakan untuk kepentingan rakyat; tidak boleh diberikan kepada swasta atau individu. Dengan cara seperti ini Khilafah akan mensejahtrakan masyarakat, yang gagal diwujudkan oleh sistem demokrasi.

Walhasil, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menerima sistem Khilafah yang akan mewujudkan harapan-harapan manusia. Selain itu, karena menegakkan Khilafah adalah kewajiban agama kita. Kalau ada sistem yang sempurna, mengapa kita tidak mengambilnya? [Farid Wadjdi]

Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2010/07/11/khilafah-vs-demokrasi/
02.04 | 0 comments | Selengkapnya

Agama dan Rokok

Ada suatu paradoks yang terjadi di masyarakat Indonesia yang bermayoritas Islam bahwa antara nilai-nilai etika kehidupan yang terkandung dalam Islam dan tindakan-tindakan sosial masyarakat Indonesia yang tercemin dalam etos, masih menunjukan hubungan kontradiktif. Realitas sosial memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia lebih cenderung mencirikan sikap perilaku yang malas, kurang cerdas, dan tidak jujur ditandai dengan merebaknya kasus korupsi, kolusi dan nepotisme. Perilaku yang menunjukan kontradiktif tersebut telah membawa bangsa Indonesia kejurang kenistaan, tidak dihargai di mata dunia internasional.

Dalam menjelaskan fenomena ini, kita teringat akan pendapat Karl Marx yang memandang bahwa agama sebagai “candu masyarakat”. Marx memandang agama sebagai “candu masyarakat” yang pada akhirnya membawa aliran komunis sangat anti agama. Namun kita tidak pernah memahami apakah gerangan yang membuat Marx berpendapat bahwa agama sebagai “candu masyarakat”, karena perasaan benci yang tak terhingga terhadap ajaran komunis akibat dari penanaman suatu bentuk doktrim oleh para penguasa era lampau di negara ini.

Kritikan Marx terhadap agama lebih diarahkan kepada pemahaman ajaran agama tradisional, ia berpendapat bahwa tekanan agama tersebut pada penderitaan dan kesulitan hidup akan memberikan nilai rohani yang positif jikalau di tanggung dengan sabar, bahkan akan memperbesar individu untuk memperoleh pahala di alam baka. Seperti halnya kekayaan materiil, status duniawi, dan kekuasaan merupakan sebagai ilusi, fana dsb. Jika sikap ini diterima oleh kelas-kelas lapisan bawah yang dengan sungguh-sungguh menerima hal ini, maka makin mengukuhkan sikap pasrah dan pasif sehingga tidak akan terjadinya peningkatan taraf kesejahtraan, dan kemiskinan akan terus berlangsung bagi lapisan bawah.

Agama Islam di indonesia berasal dari golongan Jabariah yang diwakili oleh kaum-kaum Sufi. Aliran ini berpendapat bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan oleh Tuhan, manusia tidak memiliki daya dan upaya kecuali menerima dan mengimani apa yang telah Tuhan berikan. Pengajaran agama ini ditekankan kepada pelajaran “fiqh” yang membahas sayarat-syarat dalam beribadah, alhasil, agama dipahami hanya sebatas ritual, zikir, berpuasa, shalat, dan zakat yang lebih cenderung menjauhkan diri dari kehidupan duniawi. Ajaran Islam seperti inilah yang dianggap Marx sebagai ajaran agama tradisional, dan biasa disebut juga sebagai ajaran asketis.

Rupanya masyarakat Indonesia juga sudah berada dalam jangka waktu cukup lama terbuai oleh ajaran-ajaran agama asketis dalam konteks sufisme, yang berorientasi ke akhiratnya lebih tinggi dan segala sesuatu yang berhubungan dengan keduniawian diharamkan. Harta, uang, dan segala bentuk duniawi dianggap sebagai ujian yang bisa meracuni keimanan. Takdir dipahami sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah, kita hanya bisa menerima dengan sabar, sebab dengan demikian akan menambah dan memurnikan nilai keimanan rohani. Di sisi lain, perkembangan masyarakat sudah berada pada tatanan masyarakat yang global, terbuka dan sangat bergantung pada iptek. Agama yang dipahami secara asketis tidak lagi memberikan tuntunan nilai yang bisa membawa kita terhadap realitas sosial yang terjadi.

Dalam kondisi ini Marx sangat cocok menempatkan bahwa agama sebagai “candu masyarakat”. Dan juga dianggap sebagai pembatas untuk mencapai kehidupan duniawi yang lebih maju. Agama tidak ubahnya seperti “rokok” bagi masyarakat pecandu. Dimana, bagi pecandu, rokok merupakan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dan tidak bisa ditinggalkan. Tetapi dalam kehidupannya tidak memberikan kebaikan bagi dirinya maupun bagi masyarakat disekitarnya. Namun, hal tersebut terlalu menyakitkan jika dikatakan demikian, sebab masyarakat Indonesia sebetulnya masih sangat membutuhkan dan taat dalam beragama.

Berbeda dengan agama protestan yang merupakan stimulus kuat dalam menumbuhkan sistem ekonomi kapitalis dalam tahap-tahap pembentukannya. Pengaruh yang meransang ini dapat dilihat sebagai suatu konsistensi logis dan motivasional yang bersifat mendukung secara keseluruhan, baik dari aspek luar dan dalamnya. Sebab, kondisi bangsa Eropa saat itu sedang mengarah kepada budaya kapitalis.

Atas dasar itulah, Asketisme telah mendukung masyarakat Indonesia malas, pasrah dan tidak kreatif. Di lain pihak secara riil masyarakat telah memiliki budaya-budaya yang malas sebelumnya, akibat pengaruh lingkungan alam, perkembangan intelektual, penjajahan dan ketidakmampuannya dalam mengikuti perkembangan zaman. Sistem perekonomian rakyat yang bersifat statis dan tidak mungkin beralih menjadi sistem perekonomian yang dinamis, karena agama adalah nomor satu, sedangkan perekonomian bertekuk lutut kepada agama. sifat masyarakat inilah yang membuat mereka miskin.
oleh karena itu, penanaman modal rasional agama seyogyanya dapat dimulai dan dikembangkan dalam bidang pendidikan. Karena, motivasi-motivasi spiritual harus dijadikan sebagai alat pendorong generasi muda agar belajar lebih giat, kerja keras, berorientasi kepada prestasi dan nilai-nilai positif lainnya. Karena, nasib manusia akan menjadi orang pintar atau bodoh sangat bergantung kepada usaha manusianya itu sendiri, bukan karena takdir Illahi. Melalui pemahaman rasional diharapkan agama dapat menjadi motivator ke arah terbentuknya budaya-budaya positif yang juga bersumber dan didukung oleh budaya-budaya tradisional.

Sehingga akan terjadi hubungan timbal balik yang saling ketergantungan antara motivasi spiritual dengan budaya masyarakat Indonesia yang saat ini sebenarnya sangat memerlukan suatu dukungan dari masyarakat Indonesia itu sendiri agar menjadi negara yang bisa bersaing dengan negara-negara lainnya tanpa menghilangkan peran agama dalam membangun masyarakat statis menjadi masyarakat yang dinamis di era abad ke-21 ini.

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/1873938-agama-dan-rokok/#ixzz1NrSPmbEY
02.00 | 0 comments | Selengkapnya
 

© Copyright Martins Blog 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.